Tragedi Itu Bernama Tsunami

by A Rahman

Jumat, 31 Desember 2004

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

Pada saat tulisan ini dikirimkan pada redaksi, korban di Meulaboh (Aceh Barat) belum diketahui, apalagi di desa-desa sebelah selatan dan utaranya.  Demikian juga Pulau Simeulue dan Pulau Nias, yang dikabarkan hanya sedikit  yang meninggal, tetapi kira-kira jauh lebih banyak lagi yang hilang terbawa air dari lautan Samudera Indonesia. Di kota Banda Aceh sendiri, titik yang terletak paling dekat dengan pantai sejauh 8 km dan terjauh 14 km, menurut ceritera seseorang, air mencapai ketinggian 7 m. Kebetulan, pada minggu pagi itu ada perlombaan lari sejauh 10 km, dan ribuan orang turut juga menyaksikan perlombaan itu. Juga sedang ada serah terima jabatan di lingkungan Brimob Polri, yang dihadiri oleh 300 orang. Di kawasan itu juga ada sebuah satuan TNI, dengan sekitar 300 orang berada di asrama mereka. Semuanya itu turut “disapu bersih” oleh banjir Tsunami dan hilang tidak karuan paran-nya, termasuk Komandan Resimen (Danrem) Panglima Daerah militer Aceh sendiri, kehilangan anak-istri yang hingga tulisan ini dibuat belum ada kabar beritanya.

Menurut lembaga meteorologi dan geofisika yang melakukan pemantauan dari Amerika Serikat, kerak bumi sekitar 300 km di barat Aceh, pecah sepanjang 1000 km. Inilah sebabnya, mengapa gelombang pertama yang sempat membawa sebuah kapal tanker pertamina ke arah pantai sejauh 3 km, kemudian surut dengan tiba-tiba untuk beberapa saat. Dasar laut terlihat, dan banyak penduduk berlarian ke pantai untuk menyaksikan surutnya laut itu. Ternyata, air laut itu surut, sehingga terlihat dasarnya, karena “ditelan” oleh celah sepanjang 1000 km. Tapi segera setelah itu, air menyembur keluar dari palung tersebut dalam jumlah sangat besar. Lalu datanglah gelombang kedua, yang dapat dikatakan sebagai banjir yang dahsyat. Banjir kedua inilah yang menelan banyak korban, yang menurut juru bicara sebuah lembaga di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada saat itu sudah mengakibatkan 55.000 orang kehilangan jiwa mereka, termasuk 27.000 orang di Indonesia. Menurutnya, ada sebelas negara yang terkena, dan diperkirakan 200 trilyun dollar AS kerugian harta benda.

Kesemuanya itu menutupi sebuah kenyataan sangat menyedihkan; tidak ada pemantauan apapun (dalam bentuk radar dan sistem komunikasi antar negara) yang memonitor palung tersebut. Akibatnya, pemerintah ke sebelas negara itu tidak mempunyai waktu memberikan peringatan pada para warga negara masing-masing, ketika terlihat tanda-tanda kelainan. Jika peringatan itu diberikan paling tidak ada waktu dua-tiga jam untuk membuat penduduk meninggalkan daerah pantai dan mengurangi korban sehingga berjumlah minimum. Inilah pelajaran yang dapat diambil dari kejadian tersebut, di samping beberapa hal lain yang perlu dipakai sebagai penghasilan budaya. Pemerintahan lalu menjadi lumpuh, karena kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir tersebut. Demikian juga pemerintahan daerah macet total, dengan jaringan telekomunikasai dan aliran listrik tidak berfungsi di seluruh Aceh. Cerita demi cerita disiarkan, baik melalui tayangan televisi maupun publikasi media penerbitan, tentang bagaimana warga-warga yang selamat dari bencana. Adik penulis sendiri, yang berangkat dengan rombongan DPP Golkar, dan komisi yang bersangkutan dengan hal itu di DPR-RI, menceritakan bagaimana keseluruhan pemerintahan daerah lumpuh total, karena pemerintahan tidak berjalan lagi di seluruh Nangroe Aceh Darussalam (NAD).

Ia mengacungkan jempol kepada Palang Merah Indonesia (PMI) yang dengan kesigapan penuh menangani bencana alam itu secara sistematis. Pada minggu sore, beberapa jam setelah bencana terjadi, Mar’ie Muhammad berangkat ke Aceh dengan membawa tenaga-tenaga dan alat-alat kesehatan seadanya. Di sana ia membuka pintu gudang bantuan Palang Merah yang disediakan oleh lembaga-lembaga internasional dan segera memanfaatkan isi gudang tersebut untuk menolong para korban. Karena kemacetan total pemerintahan itu, ia mengusulkan agar TNI segera mengirimkan bala bantuan berupa satu atau dua divisi pasukan-pasukan kita ke kawasan tersebut. Namun, karena Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, yang menjadi KSAD saat ini sudah berangkat ke Aceh pagi harinya penulis tidak dapat menghubunginya untuk menyampaikan usulan tersebut. Mudah-mudahan TNI segera mengirimkan bala bantuan untuk menggerakkan roda pemerintahan di kawasan NAD secepat mungkin, sehingga pertolongan yang disiapkan dari daerah-daerah lain, dapat segera sampai dan beredar di kawasan itu.

Sementara itu, penulis mendapat banyak sekali usulan, termasuk dari adik penulis dr. Umar Wahid agar dipikirkan penanganan secepat mungkin dari dunia kesehatan, agar supaya segera dilakukan persiapan menghadapi wabah (epidemic) kolera, malaria, muntaber dan sebagainya, yang tentu segera menyusul karena banyaknya mayat-mayat bergelimpangan, tanpa dapat dikubur sebelum membusuk. Tanah beberapa hektar yang disediakan guna penguburan massal mayat-mayat itu, terasa harus memiliki tenaga cukup banyak untuk melakukannya. Padahal, gempa susulan dan gelombang pasang harus diperhitungkan terjadi sewaktu-waktu, karena celah menganga di Samudra Indonesia sepanjang 1000 km itu masih ada dan bekerja aktif. Tidak seperti di lautan pasifik, yang dimonitor dengan radar oleh beberapa negara, celah sepanjang pulau Jawa di Samudera Indonesia itu terus bekerja tanpa ada yang melakukan monitoring. Inilah tragedi dari negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara, yang tidak kunjung membicarakan dan bekerja sama untuk melakukan monitoring dimaksud.

*****

Namun, semuanya telah terjadi, sehingga tidak ada gunanya untuk mempersoalkan hal itu pada saat ini. Korban yang berjatuhan memerlukan penanganan segera dan itu harus segera dilakukan secara international. Masalah kepercayaan (trust) atas kemampuan pemerintah kita untuk menangani masalah itu, ternyata diragukan oleh lembaga-lembaga internasional dan negara-negara sahabat. Berbeda dengan India dan Sri Lanka, birokrasi kita belum sanggup menjamin tidak akan ada kebocoran dalam skala besar atas bantuan internasional yang disalurkan melalui pemerintah kita. Karena tidak adanya kepercayaan (trust) tadi, maka wajar saja jikalau dunia internasional memberikan pertolongan melalui Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) kita. Tetapi, ini justru tidak diterima oleh pemerintah kita, yang sudah menunjuk lembaga nasional tertentu untuk melakukan hal itu. Tentu saja akan timbul berbagai masalah, kalau bantuan-bantuan itu dipersengketakan baik oleh negara (melalui lembaga-lembaganya), dan oleh dunia internasional peserta LSM-LSM kita.

Sementara itu, upaya untuk mengenali korban-korban bencana dan mengetahui jumlahnya mereka yang hilang, ditambah mengukur kerugian harta benda yang terjadi, berjalan terus. Tentulah ironis, jika pertengkaran terjadi dalam masa yang disebutkan itu. Bahkan persiapan untuk menghadapi gempa susulan dan gelombang pasang yang baru, juga masih berjalan terus. Tidak hanya di Aceh, melainkan juga di kawasan-kawasan lain berbagai negeri, seperti daerah sebelah selatan Banten dan Jawa Barat. Tentu saja, kita bergembira dengan adanya kegiatan-kegiatan persiapan itu. Tetapi timbul pertanyaan, cukupkah berbagai kegiatan yang dilakukan itu menyongsong kemungkinan gempa susulan dan gelombang pasang tersebut? Jawaban atas pertanyaan ini, harus diberikan oleh pemerintahan dan pihak-pihak lain yang ada di berbagai negeri tadi, dan ini tidak lepas dengan pemerintah Negara kita sendiri.

Apa yang terjadi di kawasan rendah dari NAD itu, harus dijadikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Kita tidak cukup hanya dengan berkata-kata belaka. Baik para pemimpin NAD yang ada di propinsi itu maupun di Jakarta, harus bekerja keras untuk melakukan antisipasi lebih jauh. Barulah ada artinya, jika kegiatan-kegiatan untuk “membentengi” NAD dari “keteledoran” seperti terjadi di masa lampau,ada harganya untuk mereka mengajukan klaim selaku “putra Aceh”. Memang penting, peranan “putra daerah” untuk mengumpulkan sumbangan guna rehabilitasi kehidupan di NAD, karena gempa bumi dan gelombang pasang tersebut, tapi jauh lebih penting adalah upaya melindungi diri kita sendiri dari kemungkinan-kemungkinan tersebut di masa depan. Karena hanya dengan “kewaspadaan” seperti itulah, jatuhnya korban seperti terjadi saat ini dapat dihindarkan. Ini kalau kita menganggap jiwa manusia lebih penting dari harta benda. Dengan demikian, harus dilakukan pendekatan yang tidak bersifat karitatif (belas kasihan) belaka.

*****

Tentu saja, jalan pikiran penulis ini akan disalahkan orang, karena tidak mementingkan “hukuman” bagi mereka yang bertanggungjawab atas korban demikian banyak. Harus dicari, siapa yang melakukan kesalahan terbesar terhadap jatuhnya demikian banyak korban. Tetapi memang penulis selalu berpendapat, bahwa tindakan preventif (pencegahan) jauh lebih bermanfaat dari pada sikap punitif (menghukum). Mungkin ini disebabkan oleh kebiasaan penulis melihat perspektif jangka panjang, sehingga terasa terlalu lembut dan lunak. Ini adalah “kekurangan” yang penulis akui secara terbuka. Tentu saja, praktek lapangan akan menunjukkan bahwa berbagai pihak berpandangan lain dari penulis. Namun, apa yang menjadi kelemahan negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk pemerintahan pusat dan daerah di negeri kita dalam kelangkaan antisipasi berarti terhadap datangnya gempa bumi dan banjir Tsunami seperti yang terjadi di kawasan NAD itu, rasa-rasanya sulit untuk dipahami orang karena skalanya yang demikian besar. Karenanya, kelangkaan antisipasi yang terjadi itu adalah bagian dari tragedy tersebut tentu sangat kecil. Namun, perbaikan dan antisipasi selanjutnya adalah yang terpenting, dan itu merupakan proses melestarikan dan membuang yang terjadi dalam sejarah manusia. Kenyataan sederhana, bukan?

Jakarta, 29 Desember 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s