Ajaran Tasawuf dalam Pujian Menjelang Shalat Fardlu

by A Rahman

oleh Achmad Fauzi

27/12/2010

Puji-pujian didendangkan di mushalla, langgar atau masjid, merupakan nyanyian puitis yang bernuansa keagamaan. Puji-pujian itu biasanya didendangkan oleh para jamaah menjelang shalat Fardlu, sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut shalat berjamaah.

Puji-pujian itu ada yang menggunakan bahasa Arab maupun bahasa daerah. Mungkin berkat susunannya yang ritmis, puji-pujian ini mudah dihafal dan menyebar dari satu mushalla atau masjid ke mushalla lainnya.

Puji-pujian yang didendangkan para jamaah ini biasanya selalu didahului dengan salawatan atau membaca shalawat Nabi, dan puji-pujian kepada Nabi SAW. Meskipun puji-pujian tersebut berbahasa Jawa, namun selalu didahului shalawat nabi yang memiliki berbagai keutamaan.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab, 33:56)

Ajaran Walisongo

Orang mengenal pujian disebarkan oleh kalangan pesantren. Dan ada pula yang mengatakan puji-pujian ini diperkenalkan oleh Walisongo, yakni penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Seperti yang dikenal lewat sejarah, bahwa cara yang digunakan para Wali dalam menyebarkan agama Islam adalah pendekatan persuasif, yang bersifat kemasyarakatan sesuai dengan adat dan budaya masyarakat waktu itu.

Salah satu contohnya adalah Sunan Giri yang menciptakan gending Asmaradana dan Pucung. Sunan Giri jugalah yang menciptakan tembang-tembang dolanan anak-anak, yang di dalamnya diberi unsur keislaman. Misalnya Jamuran, Cublak-cublak Suweng, Jithungan dan Delikan (Rahimsyah, tanpa tahun: 54).

Sunan Bonang menciptakan karya sastra yang disebut Suluk. Suluk berasal dari bahasa Arab ”Salakattariiqa”. Artinya menempuh jalan (tasawuf) atau tarikat. Ilmu Suluk ini biasanya disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk. Sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut Wirid.

Salah satu Suluk Wragul dari Sunan Bonang yang terkenal adalah Dhandanggula. Sebagian masyarakat (yang mengenal tarikat) mengatakan, bahwa teks puji-pujian diciptakan oleh para pemimpin tarikat dan Syekh Abdul Qadir Jailani.

Puji-pujian yang diperdengarkan di mushalla berisi shalawatan, do’a-doa mustajabah, dan petuah-petuah hidup. Puji-pujian yang diperdengarkan di mushalla atau masjid kental dengan ajaran Tasawuf.

Obat Hati Lima Perkara

Pedoman hidup muslim adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits. Al-Qur’an diturunkan Allah melalui utusan-Nya, yakni Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya Al-Qur’an dan Al-Hadits ini menjadi jelaslah jalan lurus yang harus ditempuh manusia, serta aliran benar yang harus diikuti untuk memahami pengertian-pengertian hukum yang tercantum di dalamnya.

Hal itulah yang merupakan pemisah antara yang halal dan haram. Fungsinya adalah sebagai cahaya yang cemerlang. Dengan berpegang teguh itu, akan selamatlah setiap manusia dari tipuan. Kandungannya penuh dengan penawar untuk menyembuhkan hati dan jiwa yang sakit.

Mengenai obat hati ini, dalam teks puji-pujian ditawarkan adanya lima hal yang mampu menjadi obat bagi hati manusia. Kelima hal tersebut adalah :
(1) membaca Al-Qur’an dengan mengendapkan maknanya,
(2) memperbanyak melakukan shalat malam,
(3) berkumpul dengan orang Shaleh, atau bergaul dan berguru pada orang Shaleh,
(4) mampu menahan lapar atau perbanyak berpuasa, dan
(5) perbanyak berdzikir di malam hari.

Berikut kutipannya:
Tombo ati iku limo sak wernane
Kaping pisan maca Qur’an sak maknane
Kaping pindo shalat wengi lakonono
Kaping telu wong kang shaleh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine, sopo bisa ngelakoni
Insya Allah Gusti Allah ngijabahi

Mengingat Kematian

Setiap yang hidup pasti akan mati, demikian halnya dengan manusia. Semua manusia di dunia ini akan mati. Untuk itu melalui salah satu puji-pujian manusia diingatkan akan datangnya kematian.

Ilingono para timbalan
(ingatlah jika sudah waktunya dipanggil)
Timbalane ora keno wakilan
(panggilannya tak bisa diwakilkan)
Timbalane kang maha mulya
(panggilan dari Yang Maha Kuasa)
Gelem ora bakal lunga
(mau-tak mau harus pergi)

Panggilan yang dimaksudkan adalah panggilan Yang Maha Kuasa. Tak ada satupun yang kuasa menghalanginya. Harta, tahta, atau pun kerabat dan keluarga takkan bisa menghentikannya. Panggilan untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama di dunia. Hendaknya selama masih hidup selalu ingat dan takut hanya kepada Allah, karena dengan rasa takut itu menjadikannya berhati-hati dan berusaha selalu di jalan yang benar.

Gambaran orang yang sudah mati dalam teks puji-pujian adalah sebagai berikut:
Klambine diganti putih
(bajunya diganti putih)
Nek budal ora bisa mulih
(jika berangkat tak bisa kembali)
Tumpakane kereta jawa
(kendaraannya kereta Jawa)
Roda papat rupa menungsa
(beroda empat berupa manusia)

Omahe rupa goa
(rumahnya serupa goa)
Ora bantal ora kelasa
(tak ada bantal atau pun tikar)
Omahe gak onok lawange
(rumahnya tidak ada pintunya)
Turu ijen gak onok rewange
(tidur sendirian tak ada yang menemani)

Ajaran Tasawuf yang salah satunya adalah ajakan untuk melakukan zuhud, merupakan salah satu jalan untuk takut dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Menurut Imam Ahmad bin Hambal (dalam Dahlan, dkk, 1988: 324), seorang ahli fiqih, membagi zuhud menjadi tiga, yakni meninggalkan :
(1) yang haram (zuhud orang awam);
(2) yang tak berguna dari yang halal (zuhud orang khawash, para aulia’);
(3) sesuatu yang dapat memalingkan diri dari Allah SWT (zuhud orang Arifin, orang yang sangat dekat dengan Allah).  (nu.or.id)
Penulis: Faiqotur Rosidah (Pengajar di PP Darul ‘Ulum Jombang)

Sumber :

http://madrowi.wordpress.com/2010/12/27/ajaran-tasawuf-dalam-pujian-menjelang-shalat-fardlu/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s