Tidak Menyatakan yang Benar

by A Rahman

Albiner Siagian

Selain berita mengenai mafia pajak, ada berita hangat akhir-akhir ini. Sejumlah tokoh agama dan lembaga swadaya masyarakat menuduh rezim SBY melakukan kebohongan.

Tidak tanggung-tanggung, menurut mereka ada 18 jenis kebohongan yang dilakukan rezim yang sedang berkuasa ini. Tuduhan ini menjadi lebih serius karena yang menuduh adalah orang-orang yang selama ini menjadi panutan masyarakat. Mereka dipercaya tidak memiliki agenda politik di balik tuduhannya.

Mereka membagi kebohongan itu menjadi dua kelompok: kebohongan lama dan kebohongan baru, yang masing-masing jumlahnya sembilan. Contoh kebohongan lama adalah mengenai angka kemiskinan. Pemerintah mengatakan jumlah masyarakat miskin adalah 31,02 juta, sedangkan jumlah penerima raskin 70 juta. Itu berarti ada yang tidak beres dengan angka ini. Sementara itu, janji mengenai penuntasan pemberantasan korupsi adalah contoh kebohongan baru.

Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi online mengartikan bohong sebagai tidak sesuai dengan hal yang sebenarnya atau bukan yang sebenarnya (palsu). Maka, dengan pengertian ini, berbohong berarti menyatakan yang tidak sebenarnya.

Berdasarkan bentuk dan motifnya, bohong banyak macamnya. Ada yang dikenal sebagai bohong besar (big lie). Bohong besar berupaya untuk mengelabui korban untuk memercayai yang sebenarnya kontradiktif dengan apa yang dia ketahui, atau pemahaman umum. Ini adalah bentuk pemutarbalikan fakta. Konon, Adolf Hitler adalah tokoh kebohongan ini.

Contoh berikutnya adalah bohong dengan pengabaian (lie by omission). Kebohongan ini terjadi ketika seseorang gagal menyatakan yang seharusnya dia katakan. Lebih tepatnya, kebohongan dengan pengabaian adalah kegagalan menyatakan yang benar yang seharusnya dia katakan. Jika hal ini terjadi secara sadar atau sengaja, maka itu dianggap sebagai perbuatan dosa.

Jenis bohong lainnya, antara lain, adalah bersaksi palsu dan tidak menepati janji.

Terlepas apakah tuduhan para tokoh agama dan LSM itu benar, berdasarkan bentuk kebohongan, secara umum saya membagi kebohongan itu menjadi dua kelompok. Yang pertama adalah kebohongan dengan pengabaian. Contohnya adalah klaim pemerintah atas jumlah penduduk miskin saat ini. Berdasarkan angka statistik, pemerintah menyatakan bahwa jumlah penduduk miskin adalah 31,02 juta. Akan tetapi, faktanya ada 70 juta masyarakat yang antre untuk mendapatkan jatah beras untuk rakyat miskin (raskin). Sulit bagi masyarakat untuk memahami perbedaan angka yang sangat mencolok ini. Bagaimana mungkin ada 70 juta rakyat penerima raskin, sementara yang miskin hanya 31 juta? Ada apa sebenarnya di balik angka-angka ini? Pemerintah tidak menyatakan apa yang sebenarnya terjadi.

Contoh kebohongan pengabaian kedua adalah mengenai pertumbuhan ekonomi. Pemerintah dengan bangga menyatakan bahwa perekonomian tumbuh 5,8 persen dan indeks harga saham gabungan terus meningkat. Faktanya, sebagian masyarakat tidak menikmati dampak pertumbuhan itu. Ini adalah ”permainan” angka. Sebagian besar rakyat tidak tahu bahwa angka 5,8 persen itu disumbang oleh perekonomian segelintir orang saja. Lagi-lagi, pemerintah gagal menyatakan yang sebenarnya terjadi?Lying by omission.

Kelompok kebohongan kedua adalah tidak atau belum menepati janji. Contohnya adalah pemberantasan korupsi, penegakan hak asasi manusia, dan kebebasan beragama. Sebagian masyarakat merasa pedang hukum hanya tajam bagi rakyat kecil, tetapi tumpul bagi pejabat atau orang berduit. Setiap hari masyarakat disuguhi pemandangan bagaimana hukum dipermainkan oleh mafia hukum. Teramat banyak contoh untuk ini.

Pemerintah juga gagal melindungi rakyatnya. Kebebasan untuk beribadah, suatu hak asasi yang dilindungi oleh konstitusi. Pemerintah seolah-olah tidak berdaya membiarkan sekelompok masyarakat menindas masyarakat lain ketika menunaikan kewajiban agamanya. Ini adalah sebuah ironi di negeri yang mengaku menjunjung tinggi kebebasan beragama.

Saya memaknai tuduhan ini sebagai bentuk keluh kesah tokoh masyarakat yang peduli kepada bangsa ini. Mungkin, para tokoh kita ini merasa cara dan pernyataan inilah yang paling pantas untuk diungkapkan untuk menyikapi karut-marut keadaan bangsa ini. Ungkapan ini lebih kepada pesan moral yang mengentakkan.

Karena itu, pemerintah tidak perlu kebakaran jenggot. Katakanlah yang benar! Karena tidak mengatakan yang benar, sama bohongnya dengan mengatakan yang tidak benar.

Albiner Siagian Guru Besar Tetap USU, Medan

Senin, 17 Januari 2011 | 04:23 WIB

Source :

http://cetak.kompas.com/read/2011/01/17/04234933/tidak.menyatakan.yang.benar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s