Gujahe, Spirit Korban Gempa

by A Rahman
PROFIL USAHA
Gujahe, Spirit Korban Gempa
Sabtu, 22 Januari 2011 | 03:37 WIB

Eny Pritihyani

Gempa bumi yang mengguncang Bantul, DI Yogyakarta, tahun 2006 boleh saja menghancurkan usaha minimarket Mujiyono (35). Gempa juga membuatnya kehilangan tempat tinggal. Namun, gempa tak membuat semangatnya patah. Dari ceceran rempah-rempah yang rusak akibat gempa di rumahnya, timbul ide membuat gula jawa herbal atau gujahe.

Waktu itu, kata Mujiyono, ia bingung karena sudah kehilangan segalanya. Rumah dan tempat usaha minimarketnya hancur, sementara utang bank masih sekitar Rp 100 juta.

”Kondisi itu membuat saya harus berpikir keras. Tiba-tiba saya sadar masih memiliki rempah-rempah, meski kondisinya rusak. Dari situ saya kepikiran membuat gujahe,” kata dia beberapa waktu lalu.

Rempah-rempah tersebut adalah dagangan miliknya. Selain usaha minimarket, ia juga berjualan rempah- rempah ke beberapa pasar tradisional.

Dengan latar belakang pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian, ia mempraktikkan pengetahuannya meracik campuran gula jawa dengan rempah-rempah.

”Saya penasaran dengan gula jawa. Selama ini hanya dipakai untuk masak dan rasanya selalu identik dengan manis. Saya berangan-angan bagaimana kalau gula jawa diberi tambahan rasa jahe, beras kencur, atau temu lawak. Rasanya pasti lain dan khasiatnya bagus untuk kesehatan,” kata pria yang tinggal di Dusun Kerto RT 09 RW 08, Pleret, Bantul DI Yogyakarta, ini.

Mujiyono pun mulai melakukan percobaannya. Berulang kali ia meracik campuran gula jawa dan rempah-rempah. Setelah mendapat hasil yang dirasanya pas, ia pun mulai memasarkan minuman racikannya itu.

Untuk memperkuat keyakinannya, ia mengikuti pameran pangan yang diselenggarakan salah satu lembaga swadaya masyarakat di Kecamatan Pleret, Bantul. Di luar dugaan, respons pengunjung sangat positif.

”Mereka menilai gujahe produk unik dan belum banyak dibuat orang. Dari pameran itu pesanan demi pesanan mulai mengalir,” ujarnya.

Antusiasme pasar membuat Mujiyono makin bergairah. Ia terus mencoba mencampur gula jawa dengan aneka rempah-rempah.

Kini, ada lima rasa gujahe, yakni jahe, beras kencur, kunir asem, temulawak, dan kunir putih. Kemasan gujahe pun dibuat mirip dengan gula jawa, yakni bulat dengan ukuran lebih kecil.

Satu kemasan gujahe dijual dengan harga Rp 6.000 untuk distributor. Untuk konsumen perseorangan, dijual dengan harga Rp 10.000 per kemasan. Satu kemasan berisi delapan keping gujahe. Untuk membuat satu gelas minuman dibutuhkan hanya satu keping.

Pemasaran ”online”

Saat ini, gujahe sudah menembus pasar berbagai kota, seperti Jakarta, Surabaya, Bali, Madura, dan di Kalimantan. Produk tersebut biasanya dijual di toko oleh-oleh atau toko umum. Produk gujahe tahan hingga 1,5 tahun.

Untuk memasarkan produknya, Mujiyono memanfaatkan sistem penjualan online.

Dalam memilih distributor, Mujiyono sangat hati-hati. Ia memiliki standar tertentu untuk distributornya. Distributor gujahe harus mempunyai kemampuan menjual, memiliki modal dan jujur.

Untuk menjaga loyalitas distributor, Mujiyono memberikan jaminan ganti rugi bagi gujahe yang rusak.

Proses sederhana

Proses pembuatan gujahe diawali dengan daur ulang gula jawa dengan merebusnya sampai cair. Cairan gula jawa tersebut lalu dicampur dengan rempah-rempah, sesuai rasa yang diinginkan.

Proses terakhir adalah mencetak dan mengemas gujahe. ”Prosesnya tergolong sederhana dan tidak ribet. Kuncinya ada pada saat pencampuran supaya rasanya pas,” tutur bapak tiga anak ini.

Menurut Mujiyono, sebenarnya ia bisa menggunakan nira kelapa, bukan gula jawa. Tetapi, prosesnya akan lebih lama. Selain itu, di sekitar tempat tinggalnya tak banyak pohon kelapa.

”Lebih mudah jika menggunakan bahan baku gula jawa karena mudah didapatkan di pasar-pasar,” katanya.

Berinovasi

Inovasi Mujiyono tak hanya berhenti di gujahe. Belakangan ia juga menciptakan gulajoss dan gujahe javemix. Gulajoss merupakan variasi lain dari gujahe, dengan kandungan rempah yang lebih lengkap.

Gulajoss sama dengan jamu, atau obat tradisional untuk menurunkan kolesterol, mengatasi asam urat, dan melancarkan air susu ibu. Namun, rasanya relatif lebih enak dibanding jamu.

Adapun gujahe javemix dibuat dalam kemasan bubuk. Serbuk tersebut terdiri dari campuran jahe, kopi, krimmer, dan gula jawa.

Produk-produk tersebut telah dipasok ke toko-toko kelontong, dan pasar-pasar tradisional di wilayah Yogyakarta.

Semua produk inovasinya itu berbahan baku gula jawa. Tentunya dengan kombinasi gula jawa,

Kesuksesan Mujiyono tak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga tetangga di sekitarnya. Geliat usahanya mampu menekan angka pengangguran di desanya.

Kini Mujiyono mempekerjakan sekitar 40 orang untuk memproduksi 5 kuintal gujahe dan variannya per hari.

Omzet usaha Mujiyono kini mencapai Rp 120 juta per bulan. Dengan marjin sekitar 30 persen ia mampu mengantongi keuntungan sekitar Rp 40 juta per bulan.

”Dulu saat pertama kami bikin, omzetnya hanya sekitar Rp 200.000 per bulan. Saya bersyukur atas semuanya,” ujarnya.

Mujiyono memang kehilangan tempat tinggal dan tempat usaha karena gempa. Namun, semangat membimbingnya. Prinsip Mujiyono, selalu ada harapan jika kita mau berusaha dan terus mencoba dengan landasan semangat.

Sumber:

http://cetak.kompas.com/read/2011/01/22/03374646/gujahe.spirit.korban.gempa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s