Korban Sudah Berjatuhan di Jalan!

by A Rahman

Agnes Rita S

Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor kembali terjadi, Sabtu (5/2) sekitar pukul 22.45. Kali ini senggolan dua sepeda motor menyebabkan dua orang tewas terlindas bus transjakarta di Jalan Tambak, Jakarta Pusat.

Romaddin (19) dan Muzakki (20), keduanya tinggal di Rawa Tengah, Kecamatan Johar Baru, tewas seketika akibat kejadian tersebut. Awalnya, kedua pemuda yang baru pulang kerja itu melaju dari Manggarai menuju pertigaan Proklamasi dengan berboncengan menggunakan motor Yamaha Mio B 6749 PNN.

Di jalan, sepeda motor itu bersenggolan dengan sepeda motor lain yang melaju searah dengan mereka. Sepeda motor yang dikendarai Muzakki pun terjatuh ke kiri, sedangkan kedua penumpangnya terpental ke jalur bus transjakarta. Sementara pengemudi sepeda motor yang menyenggol motor Muzakki kabur begitu saja.

Pada saat bersamaan, bus transjakarta yang dikemudikan Zhulkaili melaju di sisi lokasi kejadian dengan kecepatan sekitar 40 kilometer per jam. Bus transjakarta bernomor badan JTM 045 yang hendak pulang ke pul di Pinangranti itu tidak bisa mengelak dan ban belakang bus melindas korban hingga keduanya meninggal seketika.

Kecelakaan yang melibatkan sepeda motor memang tinggi. Dari 5.798 kecelakaan lalu lintas yang terjadi sepanjang 2010, tercatat 745 orang meninggal dan 2.663 orang luka berat. Artinya, sedikitnya dua orang meninggal setiap hari akibat kecelakaan yang melibatkan sepeda motor.

Kecelakaan tidak hanya antara sepeda motor dan sepeda motor. Kecelakaan sepeda motor juga terjadi antara sepeda motor dan kendaraan roda empat atau lebih, bahkan juga dengan pejalan kaki.

Kamis pekan lalu, seorang penyeberang jalan, Alimin Buyung (78), meninggal lantaran ditabrak sepeda motor yang melaju kencang di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Korban, warga Kelurahan Kampung Rawa, Johar Baru, meninggal seketika.

Kecelakaan yang terus terjadi dengan korban yang berjatuhan merupakan cermin kesemrawutan pengendara sepeda motor di jalan raya.

Dengan mudah kita jumpai pengguna sepeda motor yang ngebut, melawan arah, dikendarai sampai ke tengah jalur, atau menerobos lampu lalu lintas. Di sejumlah ruas jalan, seperti di Jalan Aipda KS Tubun, sering dijumpai pengendara sepeda motor tanpa helm. Tidak hanya itu, sejumlah pengendara sepeda motor juga berakrobat di jalan dengan menggunakan ponsel untuk menelepon, bahkan mengirimkan pesan singkat.

Berebut jalan

Ada juga dua sepeda motor yang berjalan beriringan sehingga memakai lajur lebih banyak. Kondisi ini menyulitkan pengguna jalan lain karena jalan banyak terpakai, sedangkan mereka biasanya berjalan lambat.

Salah seorang pengendara sepeda motor, Tanto (30), menuturkan, betapa jalanan semakin tidak ramah. Menghadapi jalanan yang macet, pengendara sepeda motor seolah selalu terburu-buru. Akibatnya, semua cara dilakukan agar segera lepas dari kemacetan, mulai dari menerobos lampu merah, melaju di trotoar, hingga mendesak pengendara di depannya agar segera melaju begitu ada kesempatan.

”Saya mencoba tertib dengan berhenti di belakang garis putih saat lampu merah, tetapi sepeda motor di belakang saya berulang kali mengklakson, menyuruh saya maju hingga melewati lampu merah,” ujar Tanto.

Di perempatan Jalan Panjang, lampu merah masih menyala 38 detik, tetapi beberapa sepeda motor terlihat menerobos karena kendaraan di seberangnya belum melaju.

Pelanggaran seperti itu jarang terjadi jika ada satu atau dua polisi yang berjaga di perempatan jalan. Di perempatan Tomang, misalnya, banyak polisi berjaga setiap saat sehingga dipastikan tidak ada pengendara sepeda motor yang berani menerobos lampu merah.

Hal serupa dirasakan Martaki Aryoseko (30) yang kerap dimaki oleh sesama pengendara sepeda motor. Amarah sesama pengendara motor itu bukan karena Martaki enggan tertib, melainkan justru ketika dia berusaha menaati peraturan.

”Jangankan diklakson, dimaki-maki juga sering, antara lain kalau saya tidak maju, padahal lampu lalu lintas masih merah. Begitu juga kalau saya tidak mau naik trotoar saat jalan macet dan tidak mau menyelip di antara badan bus yang rapat,” ujar Martaki yang sehari-hari berkendara dari rumahnya di Pondok Gede ke kantornya di Jalan Fatmawati.

Kendati harus berhadapan dengan kemacetan dan pengendara yang tidak pernah sabar, Martaki mengaku tidak punya pilihan lain selain mengendarai sepeda motor agar cepat sampai tujuan. Perjalanan dari rumah ke kantor ditempuh sekitar satu jam dengan sepeda motor. Kalau naik mobil, waktu tempuh bisa sampai dua jam.

Sementara kalau menggunakan angkutan umum, dia harus berganti tiga kali dengan waktu tempuh hampir dua jam. Selain waktu perjalanan yang lama, kedatangan kendaraan umum juga tidak pasti. Belum lagi kalau angkutan yang datang sudah disesaki penumpang lain sehingga dia terpaksa menunggu angkutan berikutnya.

Masalah banyaknya tudingan yang menyebut pengendara sepeda motor berkelakuan barbar disambut sinis oleh Jarot, pegawai sebuah perusahaan susu di Jalan TB Simatupang.

”Semuanya barbar, kok. Lihat saja, mobil dan bus umum juga nyerobot jalur motor. Kalau kita bertahan di belakang mereka, kapan sampai. Tujuan pakai sepeda motor kan memang biar bisa nyelip-nyelip,” ujarnya.

Jarot juga kesal dengan kelakuan pengemudi angkutan umum yang kerap ngawur. ”Pernah suatu kali, kopaja di depan saya tiba-tiba ngerem di tengah jalan, terus ada penumpangnya, ibu-ibu, turun begitu saja. Sudah ngerem habis, tetap saja saya menabrak ibu itu. Mau menghindar banting ke kanan atau kiri, ada kendaraan lain. Untung ibu itu cuma lecet-lecet sedikit,” ungkap Jarot.

Di sisi lain, ada juga persoalan ketertiban lalu lintas yang belum dicontohkan pemimpin. Penggunaan sirene untuk membuka jalan bagi pejabat yang belum tentu berwenang masih bisa ditemui. Artinya, persoalan tertib berlalu lintas masih jadi impian kita. Sebuah impian yang membutuhkan kerja keras untuk mewujudkannya. (FRO/NEL)

07 Februari 2011
Sumber :

http://cetak.kompas.com/read/2011/02/07/03331572/korban.sudah.berjatuhan.di.jalan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s