Kegetiran dan Harapan

by A Rahman

Oleh: Dr. KH. A. Mustofa Bisri

Tak  terasa Januari 2011 sudah berkurang beberapa hari. Padahal kenangan getir tahun 2010 masih belum benar-benar sirna dari pikiran kita. Apalagi kegetirann tahun lalu itu masih terus berlanjut. Ya, bencana-bencana yang membuat pahit kehidupan di negeri kita tahun yang lalu, masih terus berlanjut. Bencana-bencana yang tampak ‘alami’ seperti debu vulkanik, tanah longsor, banjir, dlsb; maupun yang dipaksakan tampak ‘alami’ seperti lumpur Lapindo, kecelakaan kereta api, dlsb, masih berlanjut. Belum lagi bencana-bencana yang sulit sekali disebut sebagai ‘alami’ seperti korupsi, mafia kasus, kekerasan sosial, dan kekonyolan-kekonyolan lain yang tak kunjung henti.

Di tahun 2010, kita seolah-olah tidak sempat berhenti untuk sejenak menarik nafas. Kadang-kadang musibah-musibah tidak hanya datang beruntun, tapi bersamaan. Apakah –jangan-jangan memang—ada korelasi antara musibah ini dengan musibah itu: antara ‘ngamuk’nya alam dengan kelakuan manusia yang seperti tak takut musibah itu?

Kelakuan-kelakuan manusia yang absurd dan ganjil menurut umumnya manusia, terpamerkan setiap saat; sehingga sudah semakin terasa wajar. Setiap saat kita menyaksikan sepak terjang para politisi yang entah memperjuangkan apa; sehingga ketidakjelasan perjuangan mereka dianggap hal yang biasa. Kita tak henti-hentinya mendengar wakil-wakil rakyat yang tidak punya malu hanya mewakili kepentingan diri mereka sendiri; sehingga tidak punya malu dianggap keawajaran. Kita menyaksikan mahasiswa dan pelajar berkelahi hampir setiap hari, sehingga seperti hal yang wajar. Kiai-kiai yang mestinya menjaga nurani dan pekerti masyarakat, beberapa di antara mereka terus diberitakan sibuk ngurusi kursi; sehingga semakin terasa ganjil bila ada kiai tidak ikut sibuk begitu. Orang-orang bodoh yang merasa paling Islam, terus menyuguhkan perangai yang tidak Islami, sehingga wajah Islam yang Rahmatan lil ‘alamin malah terasa ganjil. Korupsi dan sogok-menyogok di hampir semua instansi termasuk –atau lebih-lebih di tempat-tempat yang seharusnya mencegah hal-hal seperti itu, terus kita dengar; sehingga hal itu dianggap hal yang sudah semestinya. Malapetaka terus dialami oleh TKI/TKW kita, sehingga hal itu dianggap lumrah dan tak perlu diperhatikan. Kasus-kasus hukum yang mbulet dan kabur di awal atau di tengah perjalanan, bisa sewaktu-waktu kita saksikan; sehingga andai ada kasus terang benderang dan terselesaikan, malah kelihatan sangat ganjil. Gayus Halomoan Tambunan –hanya satu contoh ‘kecil’ tahanan — sudah 68 kali keluar rumah tahanan, sehingga sudah dianggap wajar. Anda bisa memerpanjang sendiri hal-hal ganjil yang sudah terasa wajar ini.

Tentu saja yang paling merasa dan menganggap wajar hal-hal ganjil ini adalah mereka yang berkelakuan ganjil itu sendiri. Para koruptor di mana pun berada; para politisi; para tukang berkelahi dan maniak kekerasan; para penyogok dan para penerima sogok; para penanggungjawab yang tidak bertanggung jawab; dsb. dst. Buktinya kelakuan-kelakuan itu tidak mereka hentikan meski sudah ditunjukkan akibat buruk nya terhadap kehidupan bersama. Mereka yang korupsi, misalnya , kelihatan tidak terusik sama sekali oleh ramainya tuntutan pemberantasan korupsi. Para penanggungjawab yang suka mengaburkan kasus-kasus hukum, kelihatan tidak tertarik untuk tobat dan menjernihkan permasalah-permasalahan. Para penegak hukum yang mendewakan materi katimbang keadilan, kelihatan bergeming melihat nasib hukum yang begitu mengenaskan. Bahkan pemerintah yang seharusnya bisa berbuat banyak untuk menata yang semrawut dan meluruskan yang bengkok, kelihatan hanya termangu-mangu seperti rakyat jelata.

Yang terakhir itu sungguh membuat banyak orang bingung dan bahkan getem-getem tidak sabar. Maksud saya, pemerintah yang seharusnya bisa berbuat banyak, mengapa tidak berbuat agak banyak. Bahkan sering tampat takut atau ragu bertindak? Katanya bertekad memberantas korupsi, memberantas mafia hukum dan memberantas makelar kasus; kapan pemberantasan ini dapat dirasakan sebagai benar-benar pemberantasan. Mengapa tampak setengah hati? Ada sekelompok masyarakat yang main hakim sendiri, bahkan mengambil alih fungsi polisi, tidak kelihatan ditertibkan. Mengapa? Khawatir apa? Masakan soal menata persepakbolaan saja kalah dengan Pilipina yang tak punya lapangan bola. Mengapa kalau tahu pengurus PSSI tidak becus, tidak dirombak saja? Apa takut kepada Nurdin Halid? Absurd.

Saya jadi teringat beberapa kalimat pak SBY saat kampanye. Beliau antara lain mengatakan bahwa “Kini saatnya pemerintah menyadari bahwa tidak perlu takut kepada orang atau sekelompok masyarakat yang kuat.; sebaliknya, kini saatnya pemerintah menyadari bahwa mereka harus takut pada rakyat, rakyat kebanyakan.” Dalam bagian lain, beliau berbicara tentang perlunya Indonesia memiliki pemimpin “yang memiliki visi, arah, dan mampu membangkitkan semangat dan harapan rakyat. Pemimpin yang konsisten . Pemimpin yang menjalankan apa yang dikatakan. Yang memenuhi janjinya. Janji di masa kampanye mau pun janji di luar kampanye.”

Mudah-mudahan di tahun 2011 ini, pak SBY belum lupa janji-janji dan ucapan-ucapannya, baik saat kampanye mau pun di luar kampanye. Lalu, mari Pak SBY, bangkitkan semangat dan harapan rakyat dengan tindakan-tindakan tegas laiknya presiden yang dipilih dan diberi amanat rakyat. Bisa!

6 Januari 2011 03:40:39

KH. Dr. A. Mustofa Bisri, Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar

Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s