Bekerja atau Berkarya?

by A Rahman

Hari jum’at lalu salah seorang rekan di tempat kerja waktu ketemu bertanya begini :

“Gimana Pak, sekarang laporan SID udah bisa di-upload nggak?”, katanya

Dia memang dulu mempunyai tugas melakukan input laporan SID (Sistem Informasi Debitur),  sebuah laporan ke Bank Indonesia tentang  penyediaan dana kepada debitur oleh bank yang outputnya kita kenal sebagai BI Checking.  Dan Sekarang itu menjadi tanggung jawabku yang dikerjakan oleh anak buahku.

“Udah dong !”, jawabku.

“Bagus lah,” katanya, “Jadi nggak usah diinput satu-satu lagi”.

Memang sejak ku-“pegang” pekerjaan ini aku usahakan untuk bisa di-upload melalui text file.  Istilahnya menurut BI adalah sistem ekspor-impor data.

“Tapi ngomong-ngomong udah naik pangkat atau belum?”, katanya buru-buru menambahkan.

Nah kalimatnya yang terakhir inilah yang membuatku tergelitik.

Ooo rupanya inilah pandangan kebanyakan teman disini, bekerja supaya bisa naik pangkat.  Mereka menuntut supaya bisa cepat naik pangkat.  Kalau 2-3 tahun pangkatnya tidak naik, mereka kecewa.  Apakah itu salah?  Tidak salah memang.

Aku memiliki pandangan lain.  Menurutku dalam pekerjaan pasti lah kita ingin melakukannya dengan mudah dan cepat, tanpa mengurangi kualitas hasil pekerjaan itu.  Suatu pekerjaan yang  bersifat repetitif atau berulang, dilakukan  secara reguler misalnya bulanan, mingguan apalagi harian dan sifatnya mekanis seperti input data, maka harus di-otomasi.   Jadi energi dan pikiran kita dapat digunakan untuk hal-hal lain yang lebih bermutu, misalnya menngkatkan mutu pekerjaan tersebut, memeriksa hasil atau memikirkan hal-hal atau pekerjaan lain yang lebih strategis.

Ini alamiah, umum dilakukan manusia.  Contoh dulu untuk memperoleh kelapa parut di pasar kita harus membeli kelapa dan alat parutan dan kita memarut secara mekanis sendiri di rumah.  Maka diciptakanlah mesin pemarut kelapa sehingga memudahkan kita.  Mesin perajang bawang, pembuat chips kentang, dan lain-lain adalah upaya otomasi untuk mmpermudah pekerjaan mekans yang berulang-ulang.

Hasil karya kita yang dapat melakukan pekerjaan lebih efisien tersebut kita promosikan bahwa dengan sistem tersebut tercapai efisiensi, menghemat waktu, dikerjakan dengan SDM yang lebih sedikit dan menghemat biaya lembur.  Atas prestasi itu, kalau manajemen atau pimpinan masih berpikir normal, seharusnya lah kita memperoleh penghargaan.

Itulah jadi menurutku naik pangkat atau penghargaan itu adalah hasil dari karya kita, dan kita sendiri dalam melakukan pekerjaan selalu mencari cara-cara bagaimana mengerjakan sesuatu secara lebih efisien, tidak secara monoton.

Jangan “nawaitu” (niat) bekerja hanya untuk naik pangkat atau memperoleh imbalan/penghargaan, tetapi seharusnyalah berkarya optimal.  Dengan pandangan itu kita tidak merasa tersiksa atau terpaksa, melainkan bergairah.

Alhamdulillah selama aku bekerja sejak pertama belum pernah memperoleh performance appraisal yang buruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s