Informasi Menjadi Persoalan Hidup-Mati

by A Rahman

René L Pattiradjawane

Krisis di Timur Tengah menghadirkan dilema baru dalam globalisasi, yang menghadirkan teknologi komunikasi informasi yang mendekatkan berbagai persoalan dunia ke hadapan siapa pun.

Orang Romawi percaya, ”…peradaban tidak pernah lebih dari tiga kali makan jauhnya dari anarki”. Ketua Mao Zedong pada masa kekuasaannya percaya bahwa negara mana pun hanya berjarak tiga kali makan dari revolusi.

Globalisasi yang sekarang terjadi di mana-mana dalam berbagai spektrum kehidupan manusia tidak hanya memengaruhi sistem ekonomi dan perdagangan, tetapi juga menghadirkan dilema yang mengubah jalannya politik luar negeri baru dalam berbagai dimensi bentuk krisis. Mulai dari keamanan pangan, pemanasan global, dan lain-lain.

Krisis ini disebut sebagai dilema konservatif (atau juga disebut sebagai dilema kediktatoran) yang mendorong terjadi perubahan yang berpengaruh tidak hanya pada pemerintahan demokratis, tetapi juga struktur keagamaan maupun para pemimpin bisnis dunia.

Dilema ini adalah bagian penting dari faktor yang diciptakan media baru dalam bentuk jejaring sosial digital, mulai dari fotokopi sampai situs web.

Diseminasi informasi

Dilema negara-negara Timur Tengah itu pernah muncul di kawasan Asia, menggulingkan Presiden Filipina Joseph Estrada karena tuduhan korupsi, pembentukan opini politik di Korea Selatan tahun 2008 memprotes impor daging dari AS, maupun protes terhadap Gereja Katolik karena berbagai skandal seks.

Ketika teknologi komunikasi informasi pada awal abad ke-20 masih dalam bentuk pertumbuhan, diktator dunia mampu bertahan dengan membiarkan jutaan rakyatnya mati, baik karena kelaparan, pertikaian politik, maupun kekejaman penguasa. Stalin melakukannya di Rusia tahun 1930-an, Mao Zedong melakukannya pada tahun 1960-an mengikuti kegagalan pembangunannya, dan Kim Jong Il melakukannya selama dua dekade terakhir ini.

Kemajuan teknologi komunikasi informasi mampu menghadirkan aktor baru politik internasional, seperti Google atau Yahoo, yang ikut memberikan andil pada kejatuhan kekuasaan Presiden Mesir. China dan Vietnam sekarang menjadi sangat khawatir ketika jejaring sosial digital mulai menyerukan unjuk rasa mengikuti peristiwa yang terjadi di Timur Tengah.

Kemajuan teknologi komunikasi informasi menjadi bagian penting politik dunia, mampu memaksa siapa pun berubah melalui diseminasi dan adopsi gagasan dan pendapat di tengah lingkup publik mana pun. Diseminasi informasi akan menjadi faktor penting dalam membangkitkan masyarakat yang tidak puas dengan ekonomi atau cara memerintah kekuasaan negara ketimbang idealisme politik.

Dilema Pemerintah China, misalnya, akan lebih dipojokkan untuk menjalankan sistem demokratis oleh kelas menengah kaya baru yang menuntut pembersihan korupsi di pemerintahan ketimbang sikap separatisme kelompok minoritas yang menuntut otonomi di Tibet atau di Xinjiang.

Menutup jejaring sosial digital terbukti tidak efektif seperti yang diperlihatkan dalam unjuk rasa antikekuasaan di berbagai negara Timur Tengah. Teknologi komunikasi informasi dalam politik luar negeri menjadi persoalan hidup-mati, mengubah keseluruhan paradigma yang kita anut sekarang ini.

Sumber :

http://cetak.kompas.com/read/2011/03/03/0334348/informasi.menjadi.persoalan.hidup-mati

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s