Jika Ngantuk, Ada Petugas yang Khusus Pegang Kepala. Yusuf Sobari, Tukang Cukur yang 16 Tahun Jadi Langganan Gus Dur

by A Rahman

Untuk urusan potong rambut, mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ternyata sangat setia kepada seorang tukang cukur di Pasar Senen, Jakarta. Selama 16 tahun, sejak sebelum menjadi presiden, menjadi presiden, hingga lengser, Gus Dur rutin datang ke sana. Sang tukang cukur pun punya banyak kenangan dengan Gus Dur.

 TOMY C. GUTOMO, Jakarta

BEGITU tiba di lantai IV tangga utama Pasar Senen, Jakarta, sebuah barber shop tampak di depan mata. Namanya Barber Shop International. Tidak terlalu besar. Lebarnya hanya 3 meter dan memanjang hingga 15 meter.

Di dalam terdapat lima buah kursi khusus untuk potong rambut warna hijau, berjejer rapi di depan cermin yang menempel di dinding. Gunting elektrik, gunting cukur manual, silet, dan peralatan barber shop lainnya tertata rapi di meja.

Itulah barber shop milik Yusuf Sobari dan Ny Tarwiyah. Di lingkungan Pasar Senen, barber shop itu cukup terkenal. Kalau kita bertanya kepada satpam Pasar Senen, mana tempat cukur yang bagus, pasti akan ditunjukkan barber shop milik Yusuf. “Ke lantai IV saja, itu tukang cukur Gus Dur,” kata seorang satpam di tempat parkir mobil. “Silakan masuk, mau gunting atau cuci rambut,” sapa Yusuf kepada para tamunya.

Pria itulah yang selama 16 tahun menjadi tukang cukur Gus Dur. Barber shop tersebut dibuka pada 1971. Awalnya berada di lantai dasar Pasar Senen.

Dulu bernama Barber Shop BNB International. Sejak 1989, Tarwiyah bergabung dengan Yusuf mengelola barber shop tersebut. Sejak 1993, barber shop itu pindah ke lantai IV. Persis di depan food court Matahari Dept Store (kini sudah tutup). Namanya lantas diganti Barber Shop International.

Yusuf dan Tarwiyah sama sekali tidak menyangka bahwa Gus Dur menjadi pelanggan tetap barber shop mereka. Gus Dur kali pertama datang pada 1990. Saat itu dia menjabat ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU). “Saya masih ingat, beliau datang sendiri saat itu,” kata Yusuf.

Pasar Senen dipilih karena lokasinya tidak jauh dari Kantor PB NU, Jalan Kramat Raya. Jaraknya tidak sampai 2 kilometer. Yusuf dan Tarwiyah tidak menyangka bahwa tamu barber shop-nya hari itu adalah tokoh yang sering dilihatnya di televisi. “Gus Dur suka duduk di kursi kedua. Tidak tahu mengapa,” kata Yusuf, sambil menunjukkan kursi yang biasa diduduki Gus Dur.

Karena cocok dengan cukuran Yusuf, Gus Dur pun rutin datang ke sana. Hampir setiap bulan Gus Dur tidak pernah absen. Selain cukur, Gus Dur suka rambutnya dikeramas. “Kadang-kadang juga saya pijat-pijat,” kata pria kelahiran 12 Juli 1944 itu.

Setiap ke barber shop Yusuf, Gus Dur tak pernah lama. Sekitar 30 menit hingga 1 jam. Gus Dur juga tidak banyak bicara. “Seringnya malah mengantuk,” timpal Tarwiyah.

Kalau dia mengantuk, Tarwiyah meminta salah seorang pegawainya memegangi kepala Gus Dur hingga selesai dicukur. “Pegawai saya itu senang sekali kalau pegang kepala Gus Dur,” tutur Tarwiyah, lantas tertawa.

Kadang-kadang Gus Dur tidak sendirian datang ke barber shop. Rekan-rekannya di PB NU kerap diajak. Kalau sedang ramai, Gus Dur juga rela antre, menunggu giliran. “Biasanya Gus Dur datang antara asar hingga magrib,” ujar Yusuf.

Ketika Gus Dur menjadi presiden, Yusuf sempat absen setahun tak mencukur rambut Gus Dur. Tapi, Yusuf bangga karena orang yang selama ini menjadi langganan cukurnya menjadi presiden. Selama menjadi presiden, Gus Dur dicukur petugas khusus yang disediakan protokoler Istana Kepresidenan.

Selama setahun lebih tak dicukur Yusuf, Gus Dur merasa kangen. Karena itu, setelah lengser dari kursi presiden, Gus Dur meminta Yusuf kembali mencukur rambutnya.

Tepatnya dua minggu setelah Megawati Soekarnoputri menggantikan sebagai presiden Indonesia, Gus Dur memanggil Yusuf ke kediamannya -saat itu di jalan Irian 7.

Gus Dur pernah mengatakan, setiap rambutnya dicukur di istana, dirinya ingat Yusuf. Tapi, tidak pernah kesampaian untuk memanggil dia ke istana. “Saya bilang ke Gus Dur, sebenarnya kami ingin sekali-kali dipanggil ke istana,” kata Tarwiyah, rekan Yusuf.

Tidak hanya mengundang, saat menjabat presiden, Gus Dur sebenarnya berkeinginan datang ke Pasar Senen untuk sekadar potong rambut di barber shop Yusuf. Tapi, saat itu Gus Dur mengatakan betapa ribetnya kalau harus ke Pasar Senen. Tentu akan dikawal ketat Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dan petugas protokoler lainnya. Begitu juga kalau memanggil Yusuf atau kru Barber Shop International ke Istana Negara. “Saya tidak lupa, Suf (Yusuf, Red). Saya itu ingat kamu terus kalau lagi dicukur,” ujar Yusuf menirukan ucapan Gus Dur ketika datang ke Yusuf dua minggu setelah lengser dari presiden.

Gus Dur, kata Yusuf, pernah mengeluhkan cukuran rambutnya selama menjadi presiden. “Katanya kalau dicukur di istana terlalu pendek, kayak tentara,”ucap Yusuf.

Setelah lengser, Gus Dur kembali datang ke Pasar Senen seperti sebelum jadi presiden. Kedatangan Gus Dur di barber shop Yusuf pascalengser tentu saja menjadi perhatian pengunjung dan pedagang di Pasar Senen. Khususnya karyawati Matahari Dept Store, yang lokasinya persis di depan barber shop Yusuf. Saat Gus Dur dicukur, puluhan karyawati Matahari Dept Store saat itu antre hanya untuk bersalaman. Begitu juga peengunjung Pasar Senen lainnya. “Gus Dur sangat rileks saat itu. Tidak terlihat tegang sama sekali,” tutur Yusuf. Gus Dur juga sama sekali tidak menyinggung soal pelengserannya. “Saya juga tidak berani tanya macam-macam,” sambung bapak dua anak itu.

Setelah itu, setiap bulan Gus Dur kembali potong rambut ke Pasar Senen. Biasanya diantar sopir dan ajudannya. Untung, ada tempat parkir mobil yang langsung ke lantai IV sehingga tidak perlu susah payah mengantar Gus Dur potong rambut.”Kalau Gus Dur datang, satpam-satpam berebut membantu,” kata Tarwiyah.

Gus Dur juga tidak canggung menggunakan toilet umum saat ingin buang air di Pasar Senen. “Di sini memang tidak menyediakan kamar kecil. Gus Dur santai saja ke toilet umum,” tutur Tarwiyah, istri almarhum Poniman, mantan diplomat RI di Italia.

Gus Dur mulai jarang datang ke Pasar Senen sejak kesehatannya menurun. Tapi, bukan berarti Gus Dur sudah melupakan Yusuf. Tahun lalu, setelah dirawat di RSPAD Gatot Subroto, Gus Dur menyempatkan diri mampir ke barber shop Yusuf untuk cukur, sebelum pulang ke Ciganjur (kediaman Gus Dur).

Saat itu Gus Dur mengajak Ny Sinta Nuriyah dan cucunya, Parikesit Nuril Azmi, putra pasangan R. Erman Royadi dan Alissa Qotrunnada Munawaroh (putri sulung Gus Dur).

“Saya masih ingat, waktu itu cucunya yang laki-laki mecahin kaca cermin. Namanya juga anak-anak,” ujar Yusuf, lantas tertawa. Gus Dur juga tidak pernah mengeluhkan sakitnya. Tetap saja suka bercanda.

“Saya ini tidak sakit. Hanya disuruh istirahat saja, orang sudah ribut semua,” kata Yusuf menirukan Gus Dur.

Sejak lima bulan terakhir, Gus Dur tidak lagi datang ke Pasar Senen. Kalau sudah waktunya potong rambut, Gus Dur memanggil Yusuf ke Kantor PB NU di Jalan Kramat Raya. Begitu ditelepon, Yusuf segera naik angkutan umum ke Kramat.

Di PB NU, Yusuf mencukur Gus Dur di kamar mandi pribadi Gus Dur. Awalnya, asisten pribadi Gus Dur menyediakan alas koran di karpet ruang kerja Gus Dur. Tapi, Gus Dur menolak. “Di kamar mandi saja, biar gampang dibersihin,” tutur Yusuf menirukan ucapan Gus Dur.

Kadang-kadang sambil dicukur Gus Dur ditemani putri keduanya, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny). “Mbak Yenny bisanya sambil mijat-mijat Gus Dur,” kata pria yang tinggal di Sukamaju, Depok, itu.

Saat ditanya berapa Gus Dur membayarnya untuk sekali cukur, Yusuf enggan mengatakan. “Yang jelas cukup banyak. Tidak usah disebut. Tidak enak sama Gus Dur,” kata pria 62 tahun itu.

Tarif potong rambut di barber shop Yusuf Rp 15 ribu. Jika potong dan cuci rambut, tarifnya Rp 25 ribu.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s